Analisis Stabilitas Lereng Tambang Menggunakan Data Drone

Pendekatan Geometri Digital untuk Monitoring Highwall
Slope failure merupakan salah satu risiko paling serius dalam tambang terbuka. Pergerakan massa tanah atau batuan tidak selalu terjadi secara tiba-tiba; sering kali didahului oleh perubahan geometri lereng yang kecil namun progresif.
Karena itu, monitoring berkala menjadi bagian penting dalam manajemen risiko geoteknik.
Keterbatasan Monitoring Konvensional
Metode tradisional biasanya mengandalkan:
- Pengukuran titik tertentu menggunakan total station
- Prism monitoring pada area spesifik
- Observasi visual dari bench tertentu
Pendekatan ini tetap penting, tetapi memiliki keterbatasan:
- Cakupan spasial terbatas
- Sulit menjangkau seluruh permukaan lereng
- Risiko keselamatan jika mendekati area rawan
- Interval pengukuran bergantung pada jadwal manual
Peran Drone dalam Monitoring Geometri Lereng
Dengan pemetaan berkala menggunakan platform seperti DJI Matrice 350 RTK dari DJI, engineer dapat menghasilkan model permukaan lereng secara menyeluruh dalam bentuk 3D.
Dari data tersebut, tim engineering dapat:
- Menghitung sudut kemiringan aktual (slope angle)
- Membuat profil cross-section highwall
- Menganalisis perubahan volume antar periode
- Mengidentifikasi deformasi permukaan secara visual
Perbandingan DSM atau model 3D dari periode berbeda memungkinkan deteksi perubahan kecil yang mungkin tidak terlihat dari pengamatan biasa.
Dampak terhadap Keselamatan dan Perencanaan
Dengan data geometri yang diperbarui secara rutin:
✔ Perubahan sudut lereng dapat dipantau lebih cepat
✔ Area berpotensi instabil dapat diidentifikasi lebih awal
✔ Tim geoteknik dapat menentukan prioritas investigasi
✔ Risiko paparan pekerja di highwall aktif berkurang
Dalam manajemen tambang modern, integrasi data drone membantu mendukung pengambilan keputusan berbasis data, bukan sekadar inspeksi visual periodik.








